Senin, 08 Desember 2008

MANA LEBIH PRIORITAS, BERMUTU ATAU SEJAHTERA?

Dalam melaksanakan tugas, sebagai guru misalnya, kita sering dihadapkan pada dua opsi yang sebenarnya bukan untuk dipilih mana yang menjadi syarat dan akibat. “Saya mau dan bisa bermutu kalau sudah sejahtera”, kata seorang guru. “Tidak mungkin kita bisa menjadi guru yang bermutu kalau hidup kita belum sejahtera”, tambahnya.

Sepertinya pernyataan ini benar. Namun kalau kita renungkan, bermutu dan sejahtera adalah dua kondisi seperti pada mata uang yang saling berkaitan erat. Mengapa demikian? Orang-orang bermutu pada umumnya hidup sejahtera, orang yang merasa sejahtera akan menjalani hidup yang bermutu. “Jadi betul kan kalau kita dituntut bermutu harus diberi kesejahteraan lebih dahulu?” Jawabannya, Ya. Masalahnya adalah pada perbedaan pandangan akan konsep sejahtera. Sejahtera itu bisa dianggap abstrak tapi sekaligus juga sangat konkret. Kita ambil saja ukuran umum dan konkret. Sejahtera itu jika seorang guru di sekolah dasar di suatu sudut kota memiliki “harta” dua milyar rupiah. Adakah?

Ada, bahkan hampir semua guru memilikinya. Kita sering tidak menyadari bahwa kita membawa harta milyaran rupiah setiap hari yang tidak mudah dicuri orang. Kita memiliki dua mata yang tidak akan kita lepaskan meski ada yang menawar mata kita dengan harga 200juta, dua telinga, tangan, kaki, jantung, ginjal, paru-paru, dan semua anugrah Tuhan yang tak ternilai yang kita bawa setiap saat, yang jika dijumlahkan harganya jauh lebih dari dua milyar rupiah.

Intinya, kita sudah sejahtera. Kita tinggal menggunakan modal kesejahteraan anugrah Tuhan itu untuk menjadi mahluk yang bermutu. Jika kita tidak mau atau bisa bermutu, itu bukan karena kita belum sejahtera. Itu karena kita enggan dan malas menggunakan semua potensi kita. Bahasa yang lebih tegas, kita tidak bersyukur atas anugrah Tuhan kepada kita. Kita hidup seolah-olah kita tidak memiliki mata untuk melihat hamparan ilmu, kita tidak memiliki telinga untuk mendengar kebaikan dan kebenaran, kita tidak memiliki tangan untuk bekerja keras, kita tidak memiliki otak yang maha dahsyat.

Maka, bersyukurlah dengan cara bekerja keras dan bermutu. Niscaya Tuhan akan menambah nikmat dan anugrah-Nya. Orang bermutu akan dihargai masyarakat, dan kesejahteraan lain mengikutinya.

Tidak ada komentar:

Mengenai Saya

Foto saya
Dosen tetap pada FKIP Universitas Bengkulu; konsultan pendidikan; pendiri the Education Development Center Indonesia; Pengelola Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu