Jumat, 15 Agustus 2008

KURIKULUM ISLAM TOTAL (KAFFAH)

Agus Trianto

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (An-Nisaa’:9).

Kurikulum Islam Total dirancang sebagai upaya menjadi qaulan sadiida untuk menjadikan generasi penerus yang bertaqwa kepada Allah secara total dan komprehensif. Peradaban dan kebudayaan Islam memiliki beberapa keungulan, yaitu : (1) mencakup makna dan nilai dasar serta keindahan peradaban; (2) mengajarkan agar kita selalu mengambil pelajaran dari alam sebagai suatu sistem ciptaan Allah yang maha sempurna; (3) memandang segala sesuatu atau peristiwa sebagai tanda kebesaran Allah; (4) manusia sebagai mahluk memaknakan dirinya sebagai orang yang mempertanggungjawabkan semua perbuatannya kepada sang Pencipta; (5) akal pikiran manusia memiliki kebebasan namun tetap tunduk kepada Risalah Ilahiyah sebagai nurun ’ala nurin, cahaya atas cahaya.

Yang dimaksud dengan peradaban Islam adalah keseluruhan manifestasi kehidupan umat Islam yang bertolak dari aqidahnya menurut agama Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam wujudnya yang minimal, peradaban Islam merupakan kehidupan umat yang ”membaca dengan nama Allah” (QS.al-Alaq:1-5); dan dalam wujudnya yang maksimal merupakan manifestasi kehidupan umat yang ”menyempurnakan keberagaman Islam” (QS. Al-Maidah: 5-3). Jadi, membangun peradaban Islam adalah meningkatkan mutu untuk mencapai kesempurnaan kehidupan beragama Islam dalam segala bidang kehidupan secara utuh.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, Maka Ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(Al-Baqarah: 208-209).

Dengan demikian maka pengertian kurikulum dalam hal ini adalah segala sesuatu yang direncanakan untuk mencapai terwujudnya generasi Islam yang memiliki peradaban Islam bermutu dalam segala bidang kehidupan untuk rahmatan lil alamin sebagaimana amanah yang harus dipikul oleh umat manusia dan sebagai khalifah di alam semesta.


Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. (Al-Ahzab:72)




DASAR IMPLEMENTASI KURIKULUM
Islam, Alam, Sains

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (Al-Fushilat:53).

Ayat di atas merupakan dasar pengembangan karakter kurikulum, yaitu Islam, Alam, dan Sains. Peradaban dan kebudayaan Barat lebih unggul dalam mempelajari ”tanda-tanda” dan melupakan pemberi tanda. Sebaliknya, sebagian umat Islam kini melupakan mengkaji ”tanda-tanda” kekuasaan Allah di muka bumi. Generasi Islam mendatang diharapkan adalah manusia yang serius mempelajari ”tanda-tanda” kekusaan Allah dalam rangka lebih meyakini kebenaran Al-Quran. Penguasaan pengetahuan tentang ”tanda-tanda kekuasaan Allah” akan menjadikan generasi Islam menjadi generasi unggul di muka bumi.

Implementasi konsep Islam, Alam, dan Sains dalam kurikulum Islam Total adalah sebagai berikut:
ISLAM. Semua bidang studi dan mata pelajaran adalah penjabaran konsep Islam. Hal ini berarti setiap guru adalah guru Islam. Guru sains, matematika, atau bahasa misalnya adalah guru yang mengajarkan ke-Islam-an melalui sains, matematika, atau bahasa.
ALAM. Kehidupan manusia, mahluk hidup lainnya dan alam semesta merupakan laboratorium untuk lebih memahami dan menguasai pengetahuan tentang ”tanda-tanda” kekuasaan Allah. Alam di sini berfungsi sebagai sumber belajar.
SAINS. Sains adalah semua pengetahuan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di jagat raya semesta ini.

Alam adalah objek pengetahuan; sains adalah metodologi pengetahuan. Keduanya tak terpisahkan agar pengetahuan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan luhur, menjadi rahmat bagi seluruh alam dan lebih meningkatkan ketaqwaan. Kejayaan Islam sangat ditentukan oleh keberhasilan penguasaan pengetahuan ini.

Tujuan dari konsep ini adalah generasi Islam memiliki ahlak mulia terhadap diri sendiri, orang lain, dan terhadap alam semesta. Oleh karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia lainnya; dan sebaik-baik di antaramu adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya khairukum man ta’allamal qur’an wa ’allamahu (HR Utsman dan Ali).
BAGAIMANA MENERAPKANNYA DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN (SD-SMP-SMA)? Saya siap berdiskusi dan urun rembug secara langsung karena tidak mungkin dapat dijabarkan dalam blog ini. Kami melayani khusus bagi yang serius. Dapat juga kontak The Education Development Center Indonesia di Jl. Raya Bogor Km. 28 Pekayon-Lapan Pasar Rebo Jakarta Timur 13710 Telp.021-8711833 Fax. 021-8705582; attn Sdr. Prima Remolda.

FEMINISME DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Agus Trianto

Our problem today is not that men and women are unequal, but that there are hardly any true men or true women left in the world” (Murata, 1992)


Berbicara tentang feminisme pasti menyangkut gender. Berbicara tentang gender adalah berbicara tentang laki-laki dan perempuan. Saya agak sungkan berbicara tentang feminisme semata, seakan saya berpihak pada satu gender. Keberpihakan semacam ini akan menelurkan perdebatan yang menyebalkan. Menyebalkan karena menghasilkan dikotomi eksklusif, bukan mitra tapi oposan, bukan kawan tapi lawan. Padahal laki-laki dan wanita harus bersatu, bersama mengarungi hidup lebih bermakna dalam hubungan interdepedensi yang harmonis. Untuk itu lah saya kiranya berbicara bukan dalam konsep feminisme semata dalam pengertian gender, fisik tetapi konsep yang lebih berkarakter, bukan soal gender tapi mutu manusia.

Feminisme dalam perspektif Islam adalah pengaturan hak dan kewajiban wanita sesuai dengan fiqh perempuan yang bersumber kepada Al Quran dan hadits, “..kembalikanlah kepada Allah (Quran) dan Rasul-Nya (Hadits)” (QS an-Nisaa: 59). Jika ingin membuat ijtihad, penafsiran baru dasar pijakannya tetap Quran dan Hadits, serta lebih berupaya memahami dan menghindari keberpihakan. Dalam konteks ini, saya akan mencoba mengurai konsep feminisme dan maskulinisme berdasarkan kajian kosmologi dan teologi Islam (Murata, 1992; Megawangi, 1999).

Sosok Ideal Insan Kamil
Pembedaan antara laki-laki dan perempuan sangat jelas ditujukan untuk kehidupan bermasyarakat dalam tataran sosial (tataran fisik), bukan tataran batin. Tidakkah laki-laki itu sama dengan perempuan (Ali Imran: 35) dalam tataran batin. Persamaan derajat di mata Tuhan pria dan wanita sama, yaitu inna akromakum indallahi atqookum (Al Hujuraat:13). “Barang siapa beramal saleh, apakah laki-laki atau perempuan, dan ia beriman, maka niscaya akan Kami hidupkan ia dengan kehidupan yang sangat baik (Al-Nahl:97). Penjelasan secara kosmologis dan teologis adalah sebagai berikut.

Di alam ini terdapat keseimbangan yang terdiri dari maskulin dan feminin, yin dan yang dalam kosmologi Cina. Di dalam filsafat teologi Islam dikenal dualitas--Dan segala-galanya Kami ciptakan serba berpasangan agar kamu dapat merenungkan kekuasaan Kami (Adz-Dzaariyaat:49); “Dia menciptakan pasangan, pria dan wanita” (An-Najm:45)--jalal dan jamal (Keagungan/Keindahan); Lutft/Qahr (Kelembutan/Kekerasan; Rahma/Ghadab (Pengasih/ Kemurkaan); termasuk ciptaan-Nya: langit/bumi, atas/bawah, raja/abdi, cahaya/gelap, feminin/maskulin, dan patriarkat/matriarkat. Dualitas ini selalu ada baik dalam tataran Ilahiah, kosmos, maupun tataran manusia yang semuanya menuntut keseimbangan. Tuhan adalah keseimbangan antara nama-namanya yang Jalal (patriarkat) dan Jamal (matriarkat). Konsep keseimbangan dalam Islam melahirkan kamal, insan kamil, insan sempurna. Artinya, pada diri gender baik dia laki-laki maupun perempuan memiliki kedua sifat itu: yin dan yang, jalal dan jamal, maskulin dan feminin.
Sosok perempuan ideal adalah sosok insan kamil, yakni yang bisa menyatukan sisi jamal dan jalal. Insan kamil itu tujuan hidup di dunia. Dalam buku The Tao of Islam karya Sachiko Murata, dikatakan bagaimana wanita itu menjadi wanita feminin positif yang merendahkan diri di hadapan Tuhan. Manusia (laki-laki dan perempuan) mempunyai sifat maskulin negatif dan feminin negatif. Maskulin negatif, kalau sudah berkuasa akan menindas serta sifat-sifat lain seperti syirik, ingin menyamai Tuhan. Sedangkan feminin negatif apabila seseorang tidak mampu melawan nafsu-nafsu rendah. Feminin itu pasif, bisikan apa saja akan dituruti.

Supaya menjadi feminin positif maka berserah diri lah kepada Tuhan. Itu secara batin, spiritual. sedangkan dalam struktur kemasyarakatan seseorang itu bisa tawakal dan merendahkan diri apabila ada sistem yang memiliki hierarkis. Kalau semuanya sejajar (equal) maka ia merendah kepada siapa? Jadi sistem hirarkis itu harus ada, dan kenyataannya memang begitu. Tuhan menciptakan itu dengan maksud agar manusia saling berkasih sayang. Kasih sayang harus diberikan karena rahmat Allah turun mendahului murka-Nya. Karena ia menjadi abdi dahulu baru menjadi wakil (khalifah) Tuhan.

Kalau anak menjadi feminin positif akan hormat kepada orang tuanya, istri menjadi feminin positif akan menghormati suaminya , laki-laki juga menjadi feminin positif tentu mereka akan hormat kepada atasannya; semuanya akan menghormati yang maha, Tuhan. Dengan feminin positif kita dapat bersikap kasih kepada orang miskin.

Di samping itu ada pula sifat maskulin positif. Sifat ini merupakan tingkat tertinggi yang dapat dicapai manusia laki-laki dan perempuan. Wanita yang mencapai maskulin positif jika sebagai ibu akan menjadi pimpinan bagi anak-anaknya serta mencurahkan kasih sayang dan arahan yang baik kepada anak-anaknya. Dan si laki-laki pun melindungi istri dan anak-anaknya. Jadi, maskulin postif itu bukan bersifat menindas, tetapi mengayomi sehingga terjadilah keseimbangan antara antara feminin positif dan maskulin positif, dan terjadi lah keharmonisan dan mencapai kamal (kesempurnaan).

Untuk mencapai kualitas kamal tertinggi, menurut Murata, manusia pertama kali harus mentransformasikann dirinya sebagai yin/jamal/feminin positif, yaitu kualitas yang mengakui dirinya rendah, tidak berlaku sombong, dan tidak pernah meninggikan dirinya. Ini berarti seseorang mengakui ada yang lebih tinggi di luar dirinya, mengakui adanya unsur patriarkis atau hirarkis dalam kehidupan. Jadi sifat yang/jalal/maskulin Tuhan dapat terinternalisasi pada manusia kalau manusia telah menjadi hamba (yin/jamal/feminin positif). Setelah menjadi yin positif, manusia akan berjuang untuk mengalahkan nafsu-nafsu negatifnya (menjadi penguasa yang mengontrol nafsu-nafsu rendahnya). Dan ini adalah awal dari diraihnya sifat yang positif, yaitu sifat manusia yang telah mencapai nafsu mutma’innah. “Hai jiwa yang mutma’innah. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (Al-Fajr:27-30).

Penafsiran seperti di atas dapat menerangkan pula mengapa banyak kaum wanita juga dapat berperilaku maskulin negatif, yaitu suka menindas, sombong, melakukan kekerasan. Persaingan dan intrik yang dilakukan wanita sama culasnya dengan apa yang dilakukan kaum pria. Banyak anak yang disiksa atau ditelantarkan oleh para wanita (ibunya sendiri), atau para pria yang dianiaya (terutama aspek emosional; ingat olok-olok pria anggota “ISTI”) oleh istrinya, atau pembantu rumah tangga yang disiksa oleh nyonya rumah. Hal ini tidak dapat diterangkan oleh teori feminisme lainnya yang hanya terpaku pada aspek eksternal gender (lahiriah) saja.

Pengertian patriarkat/maskulin positif sebagai kualitas yang harus diraih oleh seluruh manusia, diperkuat oleh seorang guru sufi kontemporer Bawa Muhaiyaddeen (1997): “sebagian besar manusia di dunia ini adalah “wanita” (dalam pengertian batin, yin/feminin negatif), dan hanya sedikit “pria”, karenanya yang banyak masuk neraka adalah “wanita”. Untuk mencapai surga, para “wanita” ini harus mentransformasikan dirinya menjadi “pria”, yaitu manusia sejati yang telah bertemu Tuhannya. Ini juga dapat menerangkan hadits Rasulullah yang dianggap sahih, “Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat seorang perempuan sebagai pemimpin mereka”. Juga akan memahami jika kaum laki-laki menjadi qawwam (pemimpin; pelindung dan pembimbing) atas kaum perempuan (An Nisaa: 34).
Feminisme Radikal sebagai Perbandingan
Hampir setengah abad lalu, Simone de Beauvior—filsuf eksistensialis wanita, kawan kumpul kebo Jean Paul Sartre sang pangeran filsafat eksistensialis—menulis buku Le Deuxieme Sex (The Second Sex de Beauvoir) yang menjadi inspirasi kaum feminis radikal untuk membuang lembaga perkawinan dan memperjuangkan kebebasan seksual. Buku ini juga menganjurkan wanita untuk tidak kawin jika ingin maju dalam karirnya.

Aliran feminisme radikal memang cenderung antikeluarga karena keluarga yang umumnya bersistem patriarki dianggap sebagai sarana penindas dan pembelenggu wanita. “The most oppresioned people in this world is mother”, kata kaum feminis. Mereka membuat opini, seorang ibu yang mengerjakan pekerjaan rumah saja adalah kelompok yang ditindas, pekerjaan hina. Mereka menyarankan mennggalkan pekerjaan itu dan mencari pekerjaan di luar rumah, bersaing dengan laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Wanita sebagai ibu diremehkan, dan ini melanggar sunatullah.

Yusuf Qardlawi dalam bukunya Islam wa Khadaratul Ghad (Islam Peradaban Masa Depan) melihat betapa tuntutan kaum feminisme bagi terwujudnya “persamaan hak antara pria dan wanita” berujung pada kondisi yang menyedihkan. Di negara-negara Skandinavia yang telah “sukses” meruntuhkan struktur patriarki yang menjadi basis dari institusi keluarga konvensional—sesuai dengan cita-cita feminisme radikal—terjadi angka perkawinan yang rendah, frekuensi kumpul kebo tinggi; perpecahan keluarga, anak dilahirkan dari luar perkawinan, angka keluarga single parent (OT Tunggal), dan angka perempuan yang bekerja semuanya tinggi. Selain itu timbul tuduhan bahwa feminisme telah merusak keluarga, sebab secara teori feminisme modern adalah anti keluarga. Antara 1963 dan 1975 angka perceraian di AS telah melonjak sebesar 100% (Megawangi, 1996). Sejak 1950 jumlah anak yang lahir dari pasangan kumpul kebo melonjak nyaris 400%; dan hampir sepertiga anak yang dilahirkan orang kulit putih lahir di luar nikah; lebih dari setengah bayi kulit hitam juga lahir di luar nikah (Time, 9/11/81). Feminisme berangkat dari peradaban materialisme maka ukuran kesuksesan seorang wanita juga berbeda. Tingkat kesuksesan eksistensi wanita diukur dari kekuasaan (power) yang dikendalikannya, materi atau uang yang dihasilkan dari pekerjaannnya, dan juga ketenaran (fame) yang dimilikinya. Ini adalah peradaban materialistik yang bersifat maskulin.

Di alam ini terdapat keseimbangan yang terdiri dari maskulin dan feminin, yin dan yang. Di dalam Islam istilahnya jalal dan jamal. Konsep keseimbangan dalam Islam melahirkan kamal, insan kamil, insan sempurna. Namun bagi kaum feminis, yang jalal, maskulin atau kekuasaan itu yang lebih kerap jadi orientasi dirinya. Wanita akhirnya juga terperangkap pada sistem yang demikian. Dia baru merasakan eksistensi dirinya kalau sudah masuk ke dunia publik, dunia maskulin. Dia dapat uang, dapat karir, dan dapat segala macam. Nah, yang bukan materi. seperti kasih sayang dianggap sikap yang aneh, yang tidak menunjang keberhasilan dunia maskulin. Akhirnya hal nonmateri itu dianggap kecil artinya. Ini merupakan masalah manusia, bukan masalah wanita saja.

Sekarang para wanita—juga para “feminis muslimah”—mulai masuk kedunia maskulin dengan cara teologi feminisme yang ingin merombak semua penafsiran fiqh perempuan. Fiqh perempuan dinilai melanggengkan sistem bahwa perempuan itu harus di rumah, harus jadi ibu, harus jadi pengasuh yang lemah, harus dilindungi, penuh kasih sayang dan penuh pengorbanan.
Sehingga timbullah gerakan atau teologi feminis yang ingin mengubah semua penafsiran itu menjadi seolah-olah Quran atau Islam itu bukan begitu pengertiannya. Kesetaraan yang mereka inginkan adalah kesetaraan aspek maskulin atau materialistik. Akibatnya yang terjadi adalah ketidakseimbangan. Tubuh yang tidak seimbang akan sakit, demikian juga masyarakat yang tidak seimbang akan sakit.

Susan Gordon dalam The Prisoner of Men’s Dream merasa dikhianati kaum feminis. Ia menjadi aktivis feminis karena percaya akan slogan feminisme bahwa masuknya wanita ke dunia maskulin (men’s world) dapat mengubah dunia menjadi lebih damai. Ternyata yang ia dapatkan keadaan dunia makin rusak, karena wanita telah masuk ke dalam perangkap sistem patriarkis dan menjadi sekedar male-clone (Megawangi, 1996). Mengambil alih kekuasaan tiran dengan cara menjadi tiran baru. Sejalan dengan ini maka muncullah gerakan ekofeminisme yang mengajak para perempuan untuk bangkit melestarikan kualitas feminin agar dominasi sistem maskulin dapat diimbangi, sehingga kerusakan alam, dekadensi moral yang semakin mengkhawatirkan dapat dikurangi. Di samping itu muncul pula gerakan kaum wanita yang menandingi gerakan feminisme egalitis yang mengingkan dipertahankannya nilai-nilai keluarga. Dengan kata lain, wanita tidak dapat diperlakukan sama dengan pria (kecuali untuk wanita yang hidup sendiri dan tidak memiliki anak), jika disamakan maka akan ada “ongkos” sosial yang harus dibayar yaitu runtuhnya tatanan nilai keluarga dan runtuhnya masa depan bangsa (Megawangi, 1999). Gerakan tersebut misalnya New Right Movement, Feminin-Anti Feminist League, The League of Housewives, The National Pro-Familiy Coalition.

Pengakhiran
Dalam beragama kita diajar pertama kali mengenal kewajiban. Jika kita berbicara tentang kewajiban maka otomatis mencakup pula tentang hak. Kewajiban suami terkait dengan hak istri; kewajiban istri terkait dengan hak suami; kewajiban orang tua terkait dengan hak anak; kewajiban anak terkait dengan hak orang tua; kewajiban keluarga terkait dengan hak masyarakat; kewajiban masyarakat terkait dengan hak keluarga; demikian seterusnya. Pemenuhan kewajiban akan menyebabkan terpenuhinya hak-hak individu dan masyarakat. Ini terkait pula dengan ajaran agama “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Kewajiban adalah praktik tangan di atas, memberi. Memberi dalam Islam harus dengan ikhlas. “Laksanakan kewajibanmu, dan mintalah kepada Allah yang kamu perlukan” (HR Bukhari dari Ibnu Mas’ud). Bayangkan jika setiap orang hanya berpikir untuk bagaimana memberi yang terbaik.

Budi munawar Rahman, seorang feminis, mencoba menafsir ulang tafsir-tafsir Al Quran “kuno” yang dianggap male-biased dalam bukunya Persfektif Gender berkomentar sinis, “Selalu saja secara klasik di kitab-kitab lama dibahas stereotype: keluarga sebagai pemerintahan terkecil adalah unsur penyangga keluarga besar yakni masyarakat dan stabilitas keluarga menentukan stabilitas masyarakat.

Padahal sebagai muslim terhadap Quran kita tidak boleh gampang curiga, meski tetap menjaga sikap kritis dan kreatif. Sikap kritis dan kreatif ini untuk menggali kebenarannya dan bukan sebaliknya mempertanyakan kebenarannya. Sebab tidak mungkin ajaran Islam disusupi ajaran yang bathil, salah dan sesat. Al Quran terbebaskan dari segala penyusupan. “Dan sesungguhnya al-Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang tidak dihinggapi kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji” (QS Fush-shilat: 42). Kata “dari depan” ini menyiratkan pandangan sangat jauh ke depan yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh manusia jaman kini, apalagi Allah itu sendiri “penguasa hari kemudian” (QS Fatihah:4). Kata “dari belakang” menyiratkan suatu refleksi sejarah hidup manusia yang sebenarnya, bukan manipulasi.

Semoga Allah selalu menunjuki kita jalan yang lurus dan diridlai-Nya. Amin.

RUJUKAN
Al Quran dan terjemahannya. Depertemen Agama RI.

Gordon, Suzazane. 1991. Prisoners of Mens’ Dreams: Striking Out for A New Feminine Future.
Boston: Little Brown & Co.

Megawangi, Ratna. 1999. Membiarkan Berbeda? Jakarta: Mizan

Muhaiyaddeen, Bawa. 1977. To Die Before Death. Philadelphia: Fellowship Press.

Murata, Sachiko. 1992. The Tao of Islam. New York: SUNY Press.

Republika, “Majikan Penganiaya Lima PRT Ditangkap”, 30 Oktober 1997.

Time, 9 November 1991.
(Disampaikan pada Kajian Kritis Muslimah “Feminisme dalam Perspektif Islam”, UKM Rohis UNIB tanggal 1 Juni 2000)

Kamis, 14 Agustus 2008

Kita Sedang Dijajah Koruptor

Bulan Agustus 2008 ini layak dijadikan bulan “perang melawan koruptor”. Para koruptor itu bak penjajah. Mereka ada di mana-mana, dari pejabat tinggi hingga pejabat rendahan, dari yang kaya hingga yang miskin, bahkan pelaku swasta juga melakukannya. Indikasinya, jika kita mengurus sesuatu akan lama dan membutuhkan biaya “tambahan” dari yang telah digariskan; jika kita berhubungan dengan sesuatu, kita dirugikan. Misalnya, di kalangan masyarakat bawah yang menggunakan jasa transportasi di terminal (resmi atau bayangan) akan dipungut dana tambahan untuk para preman yang menyebut dirinya “agen”; pedagang kaki lima akan mengeluarkan biaya tambahan uang keamanan, akibatnya mereka menaikkan harga sehingga harga di eceran masyarakat bawah jadi mahal juga. Terkadang belanja di supermarket lebih murah dari pedagang kakilima. Belum lagi jika biaya impor, perijinan, dan lain-lain yang berurusan dengan pejabat negara juga banyak memerlukan biaya tambahan. Korban terakhir adalah rakyat. Sebagaimana kaum penjajah, cenderung menyiksa rakyat dan suka memanjakan keluarga penguasa. Koruptor adalah penjajah yang menghilangkan kesempatan jutaan rakyat untuk mengubah dirinya menjadi lebih baik. Koruptor adalah penjajah yang merampok uang rakyat. Koruptor adalah penjajah yang membunuh rakyat secara perlahan namun pasti. Penjahan harus dihapuskan dari muka bumi Indonesia tercinta ini. Penjajahan bertentangan dengan konstitusi manapun di dunia. Mari kita angkat senjata untuk melawan penjajahan dan penindasan dalam bentuk apapun.

Karya Penelitian Agus Trianto

· Evaluasi Program Paket-B setara SLTP di Propinsi Bengkulu, Dikmas-Depdikbud; 1995, Proyek PPLS Dikmas, Depdibud Bengkulu.
· Persepsi Masyarakat Rejang terhadap Eksistensi Kutai, 1996, SPP/DPP UNIB.
· Kajian Bandingan Gradasi Kesantunan Ujaran Direktif Bahasa Indonesia dan Bahasa Lembak, 1997, OPF UNIB.
· Pengaruh Strategi Pengajaran dan Tipe Kepribadian terhadap kemampuan Mengarang, 1998, Peneliti Muda, Binlitabmas, DIKTI.
· Perspektif Lingkungan Hidup dalam Cerita Rakyat Bengkulu: Kajian Semiotik, 1999, Mandiri.
· Latihan Mengarang dengan Pendekatan Pola Retorika di SMP 1 Kota Bengkulu, 2000, Proyek PGSM-DIKTI.
· Analisis Retorika Humor Mahasiswa, 2001, BBI-Binlitabmas DIKTI
· Retorika Tulisan Kolom, 2002, BBI-Binlitabmas DIKTI.
· Analisis Pemarkah Seks Wanita Indonesia (Studi Retorika, Diksi, dan Isi dalam Pertuturan), Kajian Wanita, 2002
· Telaah Sarkasme Judul Berita Koran, 2003, BBI-Binlitabmas DIKTI.
· Pengembangan Model Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi Berdasarkan Pendekatan Komunikatif dan Meaningful Learning yang Berperspektif Multikultural, 2006-2007, Hibah Bersaing Binlitabmas DIKTI.


ABSTRAK

PENGARUH STRATEGI PENGAJARAN DAN TIPE KEPRIBADIAN
TERHADAP KEMAMPUAN MENGARANG SISWA SMP DI KODYA BENGKULU
(The Influence of Teaching Strategy and Personality Type on junior High School Students’ Writing Ability in Bengkulu)

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemangkusan dua strategi pengajaran, strategi rekonstruktif dan strategi komunikatif, dalam meningkatkan kemampuan mengarang. Tipe Kepribadian introversi dan ekstroversi dipilih sebagai ubahan kendali. Penelitian dilaksanakan pada siswa SMP (SMPN11dan SMPN 9) pada tahun ajaran 1996/1997. Kelas penelitian di SMPN 11 diajar dengan strategi rekonstruktif dan kelas penelitian di SMPN 9 diajar dengan strtategi komunikatif. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen dan menggunakan rancangan faktorial 2x2. Untuk analisis data digunakan analisis variansi (ANAVA) 2 jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) terdapat perbedaan pengaruh strategi pengajaran rekonstruktif dan komunikatif terhadap kemampuan mengarang (F=11,84 ≥ Ft=2,72); (b) terdapat perbedaan pengaruh tipe kepribadian introversi dan ekstroversi terhadap kemampuan mengarang (F=4,89 ≥ Ft=2,72); (c) terdapat interaksi antara strategi pengajaran dan tipe kepribadian terhadap kemampuan mengarang (F=14,95 ≥ Ft=2,72). Berdasarkan analisis lanjutan dengan uji Tukey dan analisis rerata disimpulkan bahwa (a) siswa yang diajar dengan strategi rekonstruktif berprestasi lebih baik dalam mengarang dibandingkan dengan strategi komunikatif; (b) siswa ekstrovert berprestasi lebih baik dibandingkan dengan siswa introvert dalam mengarang; (c) strategi rekonstruktif memberi hasil lebih baik dalam kemampuan mengarang bagi siswa introvert dibandingkan dengan strategi komunikatif; dan (d) strategi komunikatif memberi hasil yang lebih baik dalam kemampuan mengarang bagi siswa ekstrovert dinadingkan dengan strategi rekonstruktif.

ABSTRACT
The purpose of this research was to compare the effectiveness of two teaching strategies, reconstructive strategy and communicative strategy, in increasing writing ability. Two personality types, introvesion and extroversion are selected as control variable. The research was carried out at two Junior High Schools (SMPN 11 and SMPN 9) during the second semester of year 1996/1997. The sample involved in the research was classes where reconstructive strategy and classes where communicative strategy were applied. The research was a quasi-experiment one using 2 x 2 factorial design. The 2 way-analysis of variance (ANOVA) was used to analyzed the data obtained. The result showed that (a) there was a significant influence of reconstructive strategy on writing ability (F=11,84 ≥ Ft=2,72); (b) there was a significant difference of influence of introversion and extroversion type on writing ability (F=4,89 ≥ Ft=2,72); (c) there was an interaction between the teaching strategy and personality type which exert different effects on writing ability (F=14,95 ≥ Ft=2,72). Further analysis of the data using Tukey test and analysis of means revealed that (a) students’ achievement in writing taught by reconstructive strategy was higher than of those taught by the communicative one; (b) extrovert students’ achievement in writing was higher than the introvert one; (c) for introvert students, the reconstructive was more effective than the communicative one in increasing writing ability; and (d) for extrovert students, the communicative strategy was more effective than the reconstructive one.



LATIHAN MENGARANG DENGAN PENDEKATAN POLA RETORIKA
(Agus Trianto . The Rhetoric Pattern Approach in Writing Exercises at SMP 1 Bengkulu. The research funded by Secondary School Teacher Development Project, Dikti, 2000)

ABSTRAK
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran mengarang bahasa Indonesia. Pendekatan pola retorika diterapkan di kelas II SMP 1 Kota Bengkulu. Data dikumpulkan dengan pengamatan dan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pola retorika (oriental) dapat mengurangi hambatan psiklogis siswa saat mulai mengarang; dan meningkatkan mutu karangan meski dengan perkembangan yang agak lamban.

ABSTRACT
This classroom action research was intended to improve teaching writing in Bahasa Indonesia. The rhetoric-pattern-approach was implemented in the second grade of secondary school (SMP 1) in Bengkulu. The data data were collected through observation and evaluation. The results indicate that the rhetoric-pattern-approach, the oriental one, decrease the psychological barrier in start writing; the approach also improved students’ writing in slow development.

Kata Kunci: pendekatan pola retorika, kemampuan mengarang



ANALISIS RETORIKA HUMOR MAHASISWA

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang struktur generik teks humor. Data teks humor yang dianalisis diambil dari Humor Mahasiswa karya James Danandjaja. Data teks dianalisis berdasarkan model struktur generik teks naratif oleh Labov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) teks yang berfek humor cenderung berpola atau memiliki struktur generik teks tidak lengkap, yaitu berpola orientasi-perumitan peristiwa-resolusi, atau minimal berpola abstaksi-resolusi; (2) ketidak-lengkapan struktur generik teks tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan efek ketakterdugaan dan kejutan; dan (3) struktur generik teks humor yang berpola lengkap (abstraksi-orientasi-perumitan peristiwa-resolusi-koda) cenderung tidak menimbulkan efek kelucuan; (4) teks humor untuk mahasiswa dapat menimbulkan efek kelucuan jika sesuai dengan situasi psikologis dan kognitif mahasiswa.

ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the generic structure of students’ humor. The data or text was collected from Humor Mahasiswa by James Danandjaja. The Labov model of narrative generic structure was used to analyse the data obtained. The result showed that (1) the text which has humor effect tend to patterned or has an incomplete element structure of narrative generic structure, which is has orientation-complicating event-resolution only ; (2) the incomplete generic structure is meant to get the surprise effect; (3) the complete generic structure tend to cannot give an humor impression; (4) the college students have a good respons to the text of humor if it is fit to their psychological and cognitive situation.

Kata Kunci:Teks Humor, Struktur Teks Generik.
Penelitian Dosen Muda, 2000



KAJIAN RETORIKA TULISAN KOLOM
PENELITIAN DOSEN MUDA (BBI) PERGURUAN TINGGI TAHUN 2002
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang retorika tulisan kolom (opini) yang dikaji berdasarkan struktur generik teks. Data teks tulisan opini yang dianalisis diambil dari Harian Kompas dan Republika. Data teks dianalisis berdasarkan model struktur generik teks naratif oleh Labov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: hampir semua tidak memiliki bagian abstrak (A), pada umumnya memiliki bagian perumitan peristiwa (P) dan resolusi (R), sedangkan untuk koda (K) bersifat pilihan. Penulis kolom menggunakan berbagai gaya/bentuk pengungkapan pada bagian pengantar teks atau orientasi. Pola retorika yang menonjol, berdasarkan struktur teks yang digambarkan melalui panjang teks, adalah pola siklik. Hal ini ditandai dengan panjang bagian resolusi (R) lebih sedikit dari bagian (O) dan (P). Bagian O dan P yang lebih panjang menunjukkan cara pengungkapan yang melingkar.


ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the rhetoric of column text (giving opinion) by Labov generic structure of the text. The data or text was collected from Kompas and Republika. The Labov model of narrative generic structure was used to analyse the data obtained. The result showed that generally (1) has no abstrak (A) part, has the part of complicating event (P) and resolution (R), the coda part is optional. The column writer using his/her own style in giving intoduction/orientation of the text. The rhetoric pattern of all the text is cyclic, based on the comparation of the structure of the text.



TELAAH SARKASME JUDUL BERITA SURAT KABAR
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sarkasme judul berita surat kabar yang dikaji berdasarkan prinsip sopan santun, penggunaan diksi, dan teori kesantunan tindak keterancaman muka. Data yang berupa judul teks yang dianalisis diambil dari surat kabar Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelanggaran prinsip sopan santun yang memungkinkan munculnya muatan sarkasme adalah pelanggaran maksim pujian dan maksim simpati; (2) Sarkasme yang diakibatkan oleh penggunaan diksi yang berkonotasi kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang berkonotasi tidak enak, kasar, dan keras; (3) Tindak tuturan judul berita yang mengandung makna sarkasme akibat pelanggaran prinsip sopan santun dan diksi yang berkonotasi kurang baik sekaligus berarti tindak tuturan tersebut mengancam muka positif dan negatif; (4) Prinsip sopan santun, penggunaan diksi yang berkonotasi baik, dan tindak tutur yang tidak mengancam muka adalah pilihan strategi berbahasa yang efektif dalam berkomunikasi yang santun dan berbudaya dibanding penggunaan sarkasme atau eufimisme.

ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the sarcasm in newspaper subtitles by politeness principles, using diction, and politeness theory face threatening act. The data or titles and subtitles was collected from Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. The result showed that (1) sarcasm was caused by infraction of politeness principles generally was caused by infraction of approbation and sympathy maxim; (2) sarcasm was caused by using diction which has impact on rudeness and hyperbolic meaning; (3) sarcasm was caused by infraction of politeness principles and using diction were also face threatening act, positive and negative; (4) politeness principles, using diction, and avoid face threatening act were more effective in communication than using sarcasm or euphemism.


Kata Kunci: Sarkasme, Prinsip Kesantunan, Diksi, Tindak Mengancam Muka, Judul dalam Surat Kabar.










PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BERBASIS KOMPETENSI BERDASARKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DAN MEANINGFUL LEARNING YANG BERPERSPEKTIF MULTIKULTURAL
(Hibah Bersaing XIV 2006-2007)

The Development of Competence-Based Indonesian Material Model Based on Communicative Approach, Meaningful Learning and Multicultural Perspective

ABSTRACT

The purpose of this research was to develop and validate the model of instructional materials (textbook) of Indonesian for Junior Secondary School (SLTP) as an implementation of Competence-Based Curriculum or Kurikulum 2004. The research and development steps were (1) theoretical review, (2) need identification, (3) textbook analysis, (4) instructional analysis of Kurikulum 2004, (5) making the preliminary form of product: Teacher’s Book and Student’s Book, (6) preliminary field-testing, (7) model revision, (8) main field-testing, (9) model revision, (10) operational field-testing, (11) readability testing, (10) final textbook model.
The research concludes a set of key principles of the material model and produce Teacher’s Book and Student’s Book for SLTP Grade 7. The principles are: (1) materials should be based on Kurikulum 2004, using communicative approach, and meaningful learning; (2) the task-based syllabus material derived from the curriculum; (3) using authentic text, and the task incorporate multicultural perspectives; (4) the unit structure of material content are preliminary explanation, linguistic model, text model, and task.
The respondents’ opinions, the t-test analysis and readability formulae were used to test the model product (textbook) effectiveness. The result showed that the design of learning material was effective for grade 7 and 8. Therefore, need identification and instructional analysis in textbook design and development will lead to a better product.

Rabu, 13 Agustus 2008

Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Terlengkap di Indonesia







Buku PASTI BISA untuk Kelas 7, 8, dan 9 ini dilengkapi dengan Buku Guru (berisi silabus dan RPP yang juga memuat cara mengajarkan setiap unit termasuk kunci jawaban dan panduan penilaian kompetensi. Selain itu buku PASTI BISA dilengkapi juga dengan CD pembelajaran yang berisi panduan pengembangan kompetensi yang bersifat audio-visual, seperti cara membaca puisi, cara berpidato, berdebat, atau bermain drama. Jika ada sekolah yang sudah memakai buku ini tapi tidak mendapatkan hal yang saya sebutkan di atas, silakan menghubungi penerbit Esis-Erlangga atau kepada saya langsung. Terima kasih.
Pembahasan yang berkaitan dengan buku ini antara penulis dan guru-guru Bahasa Indonesia (MGMP Kota) telah diadakan di kota Surabaya, Yogyakarta, Jakarta (guru SMP dan SMA BPK Penabur), Kebumen, Purwokerto, Bengkulu, Padang, dan Manna. Akan menyusul di kota-kota lain yang berniat mengundang penulis.


















Mengenai Saya

Foto saya
Dosen tetap pada FKIP Universitas Bengkulu; konsultan pendidikan; pendiri the Education Development Center Indonesia; Pengelola Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu