Kamis, 14 Agustus 2008
Kita Sedang Dijajah Koruptor
Karya Penelitian Agus Trianto
· Evaluasi Program Paket-B setara SLTP di Propinsi Bengkulu, Dikmas-Depdikbud; 1995, Proyek PPLS Dikmas, Depdibud Bengkulu.
· Persepsi Masyarakat Rejang terhadap Eksistensi Kutai, 1996, SPP/DPP UNIB.
· Kajian Bandingan Gradasi Kesantunan Ujaran Direktif Bahasa Indonesia dan Bahasa Lembak, 1997, OPF UNIB.
· Pengaruh Strategi Pengajaran dan Tipe Kepribadian terhadap kemampuan Mengarang, 1998, Peneliti Muda, Binlitabmas, DIKTI.
· Perspektif Lingkungan Hidup dalam Cerita Rakyat Bengkulu: Kajian Semiotik, 1999, Mandiri.
· Latihan Mengarang dengan Pendekatan Pola Retorika di SMP 1 Kota Bengkulu, 2000, Proyek PGSM-DIKTI.
· Analisis Retorika Humor Mahasiswa, 2001, BBI-Binlitabmas DIKTI
· Retorika Tulisan Kolom, 2002, BBI-Binlitabmas DIKTI.
· Analisis Pemarkah Seks Wanita Indonesia (Studi Retorika, Diksi, dan Isi dalam Pertuturan), Kajian Wanita, 2002
· Telaah Sarkasme Judul Berita Koran, 2003, BBI-Binlitabmas DIKTI.
· Pengembangan Model Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Kompetensi Berdasarkan Pendekatan Komunikatif dan Meaningful Learning yang Berperspektif Multikultural, 2006-2007, Hibah Bersaing Binlitabmas DIKTI.
ABSTRAK
PENGARUH STRATEGI PENGAJARAN DAN TIPE KEPRIBADIAN
TERHADAP KEMAMPUAN MENGARANG SISWA SMP DI KODYA BENGKULU
(The Influence of Teaching Strategy and Personality Type on junior High School Students’ Writing Ability in Bengkulu)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemangkusan dua strategi pengajaran, strategi rekonstruktif dan strategi komunikatif, dalam meningkatkan kemampuan mengarang. Tipe Kepribadian introversi dan ekstroversi dipilih sebagai ubahan kendali. Penelitian dilaksanakan pada siswa SMP (SMPN11dan SMPN 9) pada tahun ajaran 1996/1997. Kelas penelitian di SMPN 11 diajar dengan strategi rekonstruktif dan kelas penelitian di SMPN 9 diajar dengan strtategi komunikatif. Penelitian ini merupakan penelitian kuasi-eksperimen dan menggunakan rancangan faktorial 2x2. Untuk analisis data digunakan analisis variansi (ANAVA) 2 jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) terdapat perbedaan pengaruh strategi pengajaran rekonstruktif dan komunikatif terhadap kemampuan mengarang (F=11,84 ≥ Ft=2,72); (b) terdapat perbedaan pengaruh tipe kepribadian introversi dan ekstroversi terhadap kemampuan mengarang (F=4,89 ≥ Ft=2,72); (c) terdapat interaksi antara strategi pengajaran dan tipe kepribadian terhadap kemampuan mengarang (F=14,95 ≥ Ft=2,72). Berdasarkan analisis lanjutan dengan uji Tukey dan analisis rerata disimpulkan bahwa (a) siswa yang diajar dengan strategi rekonstruktif berprestasi lebih baik dalam mengarang dibandingkan dengan strategi komunikatif; (b) siswa ekstrovert berprestasi lebih baik dibandingkan dengan siswa introvert dalam mengarang; (c) strategi rekonstruktif memberi hasil lebih baik dalam kemampuan mengarang bagi siswa introvert dibandingkan dengan strategi komunikatif; dan (d) strategi komunikatif memberi hasil yang lebih baik dalam kemampuan mengarang bagi siswa ekstrovert dinadingkan dengan strategi rekonstruktif.
ABSTRACT
The purpose of this research was to compare the effectiveness of two teaching strategies, reconstructive strategy and communicative strategy, in increasing writing ability. Two personality types, introvesion and extroversion are selected as control variable. The research was carried out at two Junior High Schools (SMPN 11 and SMPN 9) during the second semester of year 1996/1997. The sample involved in the research was classes where reconstructive strategy and classes where communicative strategy were applied. The research was a quasi-experiment one using 2 x 2 factorial design. The 2 way-analysis of variance (ANOVA) was used to analyzed the data obtained. The result showed that (a) there was a significant influence of reconstructive strategy on writing ability (F=11,84 ≥ Ft=2,72); (b) there was a significant difference of influence of introversion and extroversion type on writing ability (F=4,89 ≥ Ft=2,72); (c) there was an interaction between the teaching strategy and personality type which exert different effects on writing ability (F=14,95 ≥ Ft=2,72). Further analysis of the data using Tukey test and analysis of means revealed that (a) students’ achievement in writing taught by reconstructive strategy was higher than of those taught by the communicative one; (b) extrovert students’ achievement in writing was higher than the introvert one; (c) for introvert students, the reconstructive was more effective than the communicative one in increasing writing ability; and (d) for extrovert students, the communicative strategy was more effective than the reconstructive one.
LATIHAN MENGARANG DENGAN PENDEKATAN POLA RETORIKA
(Agus Trianto . The Rhetoric Pattern Approach in Writing Exercises at SMP 1 Bengkulu. The research funded by Secondary School Teacher Development Project, Dikti, 2000)
ABSTRAK
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil pembelajaran mengarang bahasa Indonesia. Pendekatan pola retorika diterapkan di kelas II SMP 1 Kota Bengkulu. Data dikumpulkan dengan pengamatan dan penilaian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan pola retorika (oriental) dapat mengurangi hambatan psiklogis siswa saat mulai mengarang; dan meningkatkan mutu karangan meski dengan perkembangan yang agak lamban.
ABSTRACT
This classroom action research was intended to improve teaching writing in Bahasa Indonesia. The rhetoric-pattern-approach was implemented in the second grade of secondary school (SMP 1) in Bengkulu. The data data were collected through observation and evaluation. The results indicate that the rhetoric-pattern-approach, the oriental one, decrease the psychological barrier in start writing; the approach also improved students’ writing in slow development.
Kata Kunci: pendekatan pola retorika, kemampuan mengarang
ANALISIS RETORIKA HUMOR MAHASISWA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang struktur generik teks humor. Data teks humor yang dianalisis diambil dari Humor Mahasiswa karya James Danandjaja. Data teks dianalisis berdasarkan model struktur generik teks naratif oleh Labov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) teks yang berfek humor cenderung berpola atau memiliki struktur generik teks tidak lengkap, yaitu berpola orientasi-perumitan peristiwa-resolusi, atau minimal berpola abstaksi-resolusi; (2) ketidak-lengkapan struktur generik teks tersebut dimaksudkan untuk mendapatkan efek ketakterdugaan dan kejutan; dan (3) struktur generik teks humor yang berpola lengkap (abstraksi-orientasi-perumitan peristiwa-resolusi-koda) cenderung tidak menimbulkan efek kelucuan; (4) teks humor untuk mahasiswa dapat menimbulkan efek kelucuan jika sesuai dengan situasi psikologis dan kognitif mahasiswa.
ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the generic structure of students’ humor. The data or text was collected from Humor Mahasiswa by James Danandjaja. The Labov model of narrative generic structure was used to analyse the data obtained. The result showed that (1) the text which has humor effect tend to patterned or has an incomplete element structure of narrative generic structure, which is has orientation-complicating event-resolution only ; (2) the incomplete generic structure is meant to get the surprise effect; (3) the complete generic structure tend to cannot give an humor impression; (4) the college students have a good respons to the text of humor if it is fit to their psychological and cognitive situation.
Kata Kunci:Teks Humor, Struktur Teks Generik.
Penelitian Dosen Muda, 2000
KAJIAN RETORIKA TULISAN KOLOM
PENELITIAN DOSEN MUDA (BBI) PERGURUAN TINGGI TAHUN 2002
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang retorika tulisan kolom (opini) yang dikaji berdasarkan struktur generik teks. Data teks tulisan opini yang dianalisis diambil dari Harian Kompas dan Republika. Data teks dianalisis berdasarkan model struktur generik teks naratif oleh Labov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: hampir semua tidak memiliki bagian abstrak (A), pada umumnya memiliki bagian perumitan peristiwa (P) dan resolusi (R), sedangkan untuk koda (K) bersifat pilihan. Penulis kolom menggunakan berbagai gaya/bentuk pengungkapan pada bagian pengantar teks atau orientasi. Pola retorika yang menonjol, berdasarkan struktur teks yang digambarkan melalui panjang teks, adalah pola siklik. Hal ini ditandai dengan panjang bagian resolusi (R) lebih sedikit dari bagian (O) dan (P). Bagian O dan P yang lebih panjang menunjukkan cara pengungkapan yang melingkar.
ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the rhetoric of column text (giving opinion) by Labov generic structure of the text. The data or text was collected from Kompas and Republika. The Labov model of narrative generic structure was used to analyse the data obtained. The result showed that generally (1) has no abstrak (A) part, has the part of complicating event (P) and resolution (R), the coda part is optional. The column writer using his/her own style in giving intoduction/orientation of the text. The rhetoric pattern of all the text is cyclic, based on the comparation of the structure of the text.
TELAAH SARKASME JUDUL BERITA SURAT KABAR
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang sarkasme judul berita surat kabar yang dikaji berdasarkan prinsip sopan santun, penggunaan diksi, dan teori kesantunan tindak keterancaman muka. Data yang berupa judul teks yang dianalisis diambil dari surat kabar Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pelanggaran prinsip sopan santun yang memungkinkan munculnya muatan sarkasme adalah pelanggaran maksim pujian dan maksim simpati; (2) Sarkasme yang diakibatkan oleh penggunaan diksi yang berkonotasi kurang baik adalah penggunaan kata-kata yang berkonotasi tidak enak, kasar, dan keras; (3) Tindak tuturan judul berita yang mengandung makna sarkasme akibat pelanggaran prinsip sopan santun dan diksi yang berkonotasi kurang baik sekaligus berarti tindak tuturan tersebut mengancam muka positif dan negatif; (4) Prinsip sopan santun, penggunaan diksi yang berkonotasi baik, dan tindak tutur yang tidak mengancam muka adalah pilihan strategi berbahasa yang efektif dalam berkomunikasi yang santun dan berbudaya dibanding penggunaan sarkasme atau eufimisme.
ABSTRACT
The purpose of this research was to describe the sarcasm in newspaper subtitles by politeness principles, using diction, and politeness theory face threatening act. The data or titles and subtitles was collected from Bengkulu Ekspress, Semarak Bengkulu, Kompas, Koran Tempo, dan Rakyat Merdeka. The result showed that (1) sarcasm was caused by infraction of politeness principles generally was caused by infraction of approbation and sympathy maxim; (2) sarcasm was caused by using diction which has impact on rudeness and hyperbolic meaning; (3) sarcasm was caused by infraction of politeness principles and using diction were also face threatening act, positive and negative; (4) politeness principles, using diction, and avoid face threatening act were more effective in communication than using sarcasm or euphemism.
Kata Kunci: Sarkasme, Prinsip Kesantunan, Diksi, Tindak Mengancam Muka, Judul dalam Surat Kabar.
PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR BAHASA INDONESIA BERBASIS KOMPETENSI BERDASARKAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DAN MEANINGFUL LEARNING YANG BERPERSPEKTIF MULTIKULTURAL
(Hibah Bersaing XIV 2006-2007)
The Development of Competence-Based Indonesian Material Model Based on Communicative Approach, Meaningful Learning and Multicultural Perspective
ABSTRACT
The purpose of this research was to develop and validate the model of instructional materials (textbook) of Indonesian for Junior Secondary School (SLTP) as an implementation of Competence-Based Curriculum or Kurikulum 2004. The research and development steps were (1) theoretical review, (2) need identification, (3) textbook analysis, (4) instructional analysis of Kurikulum 2004, (5) making the preliminary form of product: Teacher’s Book and Student’s Book, (6) preliminary field-testing, (7) model revision, (8) main field-testing, (9) model revision, (10) operational field-testing, (11) readability testing, (10) final textbook model.
The research concludes a set of key principles of the material model and produce Teacher’s Book and Student’s Book for SLTP Grade 7. The principles are: (1) materials should be based on Kurikulum 2004, using communicative approach, and meaningful learning; (2) the task-based syllabus material derived from the curriculum; (3) using authentic text, and the task incorporate multicultural perspectives; (4) the unit structure of material content are preliminary explanation, linguistic model, text model, and task.
The respondents’ opinions, the t-test analysis and readability formulae were used to test the model product (textbook) effectiveness. The result showed that the design of learning material was effective for grade 7 and 8. Therefore, need identification and instructional analysis in textbook design and development will lead to a better product.
Rabu, 13 Agustus 2008
Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Terlengkap di Indonesia
Jumat, 01 Februari 2008
KONTRIBUSI LINGUISTIK STRUKTURAL DAN TRANSFORMASI GENERATIF DALAM PENGAJARAN BAHASA INDONESIA (PBI)
1. PENDAHULUAN
Pengajaran Bahasa Indonesia (PBI) sebagai suatu khasanah penerapan teori interdisipliner kebahasaan, psikologi, sosiologi dan ilmu yang lain dewasa ini berkembang semakin berkembang semakin semarak. Alur perkembangannya dapat disebut sejajar dengan perkembangan ilmu yang memberikan kontribusi kepada PBI. Isu-isu yang menonjol dalam setiap perkembangan dapat dimanfaatkan dalam rangka peningkatan mutu PBI.
Uraian singkat berikut mencoba mengungkapkan isu-isu yang menonjol dalam kurun waktu penggal lintas waktu (cross sectional past time study), yang dalam studi kebahasaannya (Linguistic), orang menyebutnya sebagai ”linguistic plus”
2. ISU-ISU PENGAJARAN BAHASA
Era Strukturalis
Isu-isu pengajaran bahasa lebih menonjol pada masa menjulangnya linguistik struktural. Linguistik struktural yang terkenal sejak perang dunia kedua dalam kaitannya dengan program pengajaran bahasa memiliki 5 (lima) asumsi umum. Asumsi umum itu terdiri atas: Pertama, bahwa prosedur kerja linguistik (struktural) dapat digunakan sebagai metode pengajaran bahasa. Asumsi ini mengisyaratkan kepada penekanan perlunya latihan berbicara dan menggunakan informan asli untuk menirukan dan latihan lafal. Melalui latihan-latihan pasangan minimal siswa berlatih membedakan fonem-fonem, dan berusaha menghasilkan fonem dalam cara pasangan minimal, yang dapat dikenali penutur asli. Setelah itu siswa mempelajari isyarat-isyarat gramatikal (morfem, kata tugas, urutan kata), melalui berbagai-bagai latihan subtitusi dan perluasan dalam bentuk pola-pola latihan (drill).
Kita dapat mengidentifikasikan aspek-aspek aliran struktural yang berpengaruh dalam pengajaran bahasa terutama metode audio-lingual. Terdapat penekanan yang lebih besar terhadap berbicara dari pada menulis, dalam tahap awal metode audio-lingual. Hal ini disadari oleh asumsi kedua yang menyatakan bahwa materi pengajaran bahasa harus disajikan dalam bentuk latihan berbicara sebelum siswa diperkenalkan dengan latihan menulis. Pada tahap awal keterampilan berbahasa berbicara dan menyimak dianggap lebih penting, dan baru kemudian membaca dan menulis.
Linguistik struktural tidak terlalu memperhatikan makna. Dalam analisa bahasa, mereka tidak membentuk-bentuk yang mirip. Oleh karena itu asumsi ketiga yang disodorkan adalah bahwa tidaklah penting bagaimana makna itu diperoleh siswa. Makna itu dapat ditanyakan saja langsung kepada penutur asli.
Asumsi yang keempat menyatakan bahwa tidak perlu menyajikan gradasi dan urutan kekomplekan gramatikal pada materi yang dipelajari siswa. Asumsi ini berdasarkan kepada tesis dalam analisis struktural bahwa ahli bahasa hanya memiliki kontrol yang sedikit terhadap kekomplekan data yang diperoleh dari informannya. Apabila ahli bahasa itu menemukan data (ujaran) yang terlalu kompleks, cenderung menghindar atau dipilih dari yang tidak komplek. Dalam pengajaran bahasa mereka berpendapat bahwa struktur yang kompleks akan menyulitkan siswa dalam proses memorinya.
Salah satu alasan mengapa kaum strukturalis kurang memperhatikan makna dalam analisisnya, karena mereka berpendapat bahwa makna ini bersifat abstrak, tidak dapat diindra, dan makna ini hanya ada dalam pikiran, dan karena itu makna dianggap pula bersifat subyektif. Ilmuwan mestilah mengamati fenomena dan baru mempelajarinya. Tegasnya ilmuwan harus mempelajari apa yang bisa diamati. Sikap yang demikian melahirkan asumsi yang kelima yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah tingkah laku dan tingkah laku dapat dipelajara dengan cara melakukan. Karena itu siswa mempelajari bahasa dengan cara melakukan respon dalam praktek-praktek latihan kegiatan berbahasa dan penguatan bagi respon yang benar. Asumsi yang terakhir ini sesungguhnya hasil dari analisis kaum psikologi behavioris. Oleh karena itu orang dapat mendiskusikan lebih lanjut tentang tehnik pengajaran bahasa melalui respon dari penguatan ini.
Asumsi-asumsi di atas terutama asumsi ketiga dan keempat banyak mengandung perdebatan di kalangan guru bahasa, sedangkan asumsi yang kelima telah diserang langsung penganut tata bahasa generatif.
Era Tata Bahasa Generatif
Chomsky sendiri menyatakan bahwa tata bahasa generatif (TG) tidak memiliki relevansi terhadap pengajaran bahasa, dan selama TG tidak tertarik akan prosedur penemuan (discovery procedures), tidak ada aspek metodologis dari TG yang dapat diimplitasikan dalam teknik pengajaran bahasa, sebagaimana metode linguistik struktural. Namun demikian banyak interes dalam pengajaran bahasa berasal dari TG yang mendasarkan pada asumsi-asumsi yang dilahirkan oleh TG.
Asumsi-asumsi ini mencakup :Pertama, bahwa guru akan memfokuskan pada pengembangan kompetensi bahasa anak daripada ke fokus pada perfomansi, walaupun kompetensi bahasa hanya dapat dikembangkan dan dinilai melalui performansinya. Asumsi ini didasari pada tujuan utama dari TG, yaitu memperoleh gambaran tentang kompetensi bahasa penutur asli. Apabila tujuan guru memfokuskan pada performansi, hal itu kadang-kadang mendatangkan hasil yang tidak menguntungkan. Siswa boleh jadi berlatih dengan pola-pola kalimat tanpa mengetahui makna apa yang dikatakannya atau tanpa menggunakan selama komunikasi yang riel. Tentu saja memang pengembangan kompetensi bahasa anak harus menjadi tujuan dalam pengajaran bahasa, bahkan sebelum munculnya TG. Pembedaan secara tegas (eksplisit) antara kompetensi dan performansi bagaimanapun menyadarkan kepada guru bahwa sejumlah performansi (baca latihan keterampilan berbahasa) yang diperoleh siswa harus diakitkan dengan tingkat pengembangan kompetensi bahasa mereka. Latihan-latihan yang intensif (performansi), tanpa menyadari makna tidak akan meningkatkan kompetensi. Dalam latihan dialog misalnya siswa memang dapat memperoleh keterampilan menghasilkan pola-pola kalimat secara sempurna dalam suatu situasi khusus. Akan tetapi kompetensi kebahasaan siswa bukan ditunjukkan oleh diperolehnya sejumlah kalimat-kalimat yang gramatikal. Kompetensi itu harus ditunjukkan oleh hanya jika siswa dapat menggunakan pola kalimat itu dalam situasi komunikasi yang riel.
Defenisi tata bahasa menurut TG yang menyatakan bahwa tata bahasa merupakan sebuah sistem kaidah yang menurunkan (menghasilkan) kalimat-kalimat gramatikal suatu bahasa, dan ide yang menyatakan bahwa bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif (a creative oreativity), mengantarkan kepada asumsi kedua. Asumsi kedua ini menyatakan bahwa selama bahasa adalah sebuah aktivitas yang kreatif, dalam tahap belajar manapun guru akan mengarahkan siswanya untuk kreatif menghasilkan ujaran-ujaran (kalimat) baru, daripada sekedar mengulang-ulang atau mengingat-ingat apa yang telah diperolehnya dalam belajar. Meskipun Chomsky mengidentifikasikan kaidah-kaidah TG dengan kompetensi penutur asli, kita tidak harus menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah ini secara sadar digunakan oleh penutur asli dalam menghasilkan ujaran (kalimat). Demikian juga, suatu kaidah tatabahasa tidak berimplikasi dalam pengajaran kaidah-kaidah bahasa. Akan tetapi sesungguhnya kaidah-kaidah itu adalah suatu deskripsi dari idealisasi pengetahuan penutur asli yang tersimpan dalam kesadaran dan kemudian dapat menolongnya menciptakan (menghasilkan) ujaran baru secara kreatif.
Informasi di atas menghantarkan kepada asumsi ketiga, yang menyatakan bahwa dalam berbagai tahap belajar bahasa kemampuan siswa untuk menciptakan ujaran-ujaran baru akan bertambah dengan pengetahuannya tentang kaidah-kaidah yang menggambarkan ujaran.
Dalam teori TG seorang anak memperoleh kompetensinya dalam tahap awal dalam bahasa ibunya. Dalam setiap tahapan anak membentuk hipotesis tertentu tentang kode dan mengetesnya dengan ujaran yang didengarnya, sampai pada akhirnya anak mempelajari keseluruhan kode menurut pandangan ini ujaran anak yang menyimpang dari ujaran dewasa bukanlah suatu kesalahan (errors) melainkan suatu manifestasi dari sejenis kode yang telah dia kontrol dalam tahap yang bersangkutan. Apabila kita mengasumsikan bahwa belajar bahasa kedua sama dengan belajar bahasa pertama, kita dapat mengajukan asumsi yang lain untuk pengajaran bahasa yang berhubungan dengan ide kalimat inti (kernels) dan transformasi. Kita mengetahui bahwa ”Kernels” adalah struktur yang lebih kompleks. Informasi di atas mengantarkan kepada asumsi yang keempat, yang menyatakan bahwa guru bahasa akan menyajikan pertama-tama kalimat inti (kernels sentences), yang kemudian diikuti dengan kalimat transformasi, yang juga akan disusun agar dapat menambah kompleksitas kalimat, misalnya transformasi dari kalimat kernels pertama diikuti oleh kalimat transformasinya. Kalimat kernels kedua diikuti oleh kalimat transformasinya, dan demikian seterusnya.
Konsep TG yang lain adalah dibedakannya antara struktur batin (deep structures) dan struktur lahir (surface structures). Hal ini mengantarkan kepada asumsi kelima yang menyatakan bahwa guru bahasa tidak akan mengkombinasikan struktur lahir yang identik tetapi dari transformasi struktur batin yang berbeda, dalam satu latihan kalimat. Hal ini dikarenakan jika kepada siswa disajikan struktur-struktur yang identik akan mengalami kesulitan dalam mencari struktur batinnya.
Apabila manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk memperoleh bahasa (kemampuan bawaan untuk memperoleh bahasa), siswa mempunyai kedudukan yang penting daripada guru dalam situasi belajar. Hal ini memberikan asumsi yang keenam yang menyatakan bahwa guru akan menciptakan suasana (atmosphere) yang memungkinkan digunakannya kemampuan bawaan siswa dalam belajar secara kreatif.
3. PEMANFAATAN ASUMSI-ASUMSI LINGUISTIK STRUKTURAL DAN TRANSFORMASI GENERATIF DALAM PBI
Pemanfaatan akan asumsi-asumsi dua kelompok aliran linguistik di atas dalam pengajaran bahasa didasarkan pada kajian psikolinguistik. Psikolinguistik (yang dimulai dikenal sejak tahun 1951), adalah lapangan studi sebagai sebagai kombinasi (interdisipliner) antara psikologi dan linguistik. Salah satu isu yang relevan yang dapat kita angkat dari psikolinguistik dalam kaitannya dengan pemanfaatan asumsi-asumsi linguistik struktural dan transformasi generatif adalah isu tentang pemerolehan bahasa (language acquisition).
Terdapat dua teori tentang pemerolehan bahasa: teori belajar kode-kognitif (the cognitive-code learning theory), yang dihasilkan oleh TG, dan teori pembentukan kebiasaan (habit-formation theory) dari linguistik struktural.
Dalam memanfaatkan asumsi-asumsi dan model pemerolehan bahasa di atas guru harus membuat beberapa catatan pertimbangan pemanfaatan:
(1) Jika pemerolehan bahasa adalah suatu pembentukan kebiasaan (habit formation), guru bahasa harus menyusun program secara konkret. Jika hal ini yang dipilih maka beberapa kegiatan yang perlu dilakukan antara lain:
a. mintalah kepada siswa agar meniru model yang disajikan guru
b. berikan pola-pola latihan (pattern drill), untuk menyatakan kebiasaan bertingkah laku (habit of behaviour)
c. berikan kepada siswa penguatan (reinforcement) untuk respons (jawaban) yang benar dan kurangi (hilangkan, eliminate) respons yang salah, dan
d. biarkan siswa belajar secara induktif, menafsirkan kaidah-kaidah yang telah dipelajarinya.
(2) Sebaliknya apabila pemerolehan bahasa adalah belajar tentang kode (a matter of cognitive learning code), guru bahasa harus menjamin bahwa siswa mampu menginternalkan (internalized) kaidah-kaidah yang memungkinkan siswa mampu menghasilkan kalimat. Penjelasan mengenai struktur kalimat dan pengetahuan tentang kaidah harus ditempatkan dalam skala aturan yang luas dalam pengajaran bahasa.
Tentu saja dalam setiap teori terdapat kekuatan dan kelemahan. Kelemahan dari pembentukan kebiasaan (habit formation) antar lain adalah bahwa siswa tidak dilatih menggunakan kalimat (struktur) dalam situasi komunikasi yang aktual. Namun kekuatannya juga ada, yaitu antara lain bahwa penguasaan akan kaidah-kaidah yang dipelajari oleh siswa sangat kecil. Kelemahan dari teori belajara kode (learning code), bahwa dalam kenyataannya kaidah-kaidah (kode) bahasa itu tak terbatas jumlahnya, dan kemampuan memperoleh kalimat yang benar sangat tergantung kepada lingkungan berbahasa siswa (berbagai macam variasi, laras, dan register). Kekuatan teori ini antara lain adalah bahwa pengetahuan tentang fakta (bahasa) dan kaidah formal bahasa dapat secara nyata menolong mengarahkan siswa untuk membentuk kalimat yang baik (baku).
(3) Sehubungan dengan kelemahan dan kekuatan kedua teori belajar bahasa di atas, J.B. Carol (1971), mengajukan sintesa kedua teori belajar tersebut yang diberi nama teori pembentukan kebiasaan kognitif (cognitive code learning). Menurut teori Carol ini belajar bahasa adalah rangkaian antara latihan-latihan menguasai pola-pola dan sekaligus menciptakan kondisi belajar yang kondusif agar pola-pola itu terinternalisasikan dalam kesadaran siswa. tahap berikutnya siswa didorong untuk mampu menghasilkan kalimat baru. Internalisasi dan pembentukan kalimat baru saja, tidak cukup. Tahap berikutnya menurut Carol, siswa harus diterjunkan dalam situasi komunikasi riel seperti yang terjadi pada penutur asli.
Tiga cara pemanfaatan di atas, masih dapat didiskusikan lebih lanjut, lebih-lebih jika sudah berkaitan dengan penyusun perangkat bahan atau materi ajarnya. Namun tinjauan singkat selayang pandang ini bisa juga dipandang sebagai rambu-rambu dalam peningkatan PBI.
DAFTAR PUSTAKA
Carrol, J.B., Current Issues in Psycholinguistics and Second Language Teaching TESOL Quarterly, 1971.
Chomsky, N., Aspects of the Theory of Syntax, Cambridge, Mass. M.I.T. Press, 1965.
--------------., Linguistictheory, In Mead, Robert G (ed) Language Teaching Broader Contexts, New York. MPA Materials Centre, 1966.
Gleason, H.A., An Introduction to Descriptive Linguistics, New Yourk. Holt Rinehart and Winston, 1961.
Mengenai Saya
- Dr. Agus Trianto, M.Pd.
- Dosen tetap pada FKIP Universitas Bengkulu; konsultan pendidikan; pendiri the Education Development Center Indonesia; Pengelola Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu